Rabu, 29 Mei 2013

Cerpen Cinta Romantis

Jessica menuntut Olga untuk memberikan kepastian status hubungannya yang sudah setahun lebih mereka lalui tanpa kejelasan, mereka sangat dekat layaknya sepasang kekasih, tapi Olga sebagai seorang cowok belum bisa berkomitmen dengan status hubungannya ini.

Cerpen Cinta Romantis

“Bukan cuma kamu aja yang capek, jess… aku juga capek dengan perasaanku ini, aku ga’ mau seperti ini, aku sayang sama kamu…. tapi, aku takut kamu nyakitin aku!!”

“Kak olga, kenapa kamu slalu berfikir kalau aku akan nyakitin kamu…sedetikpun ga’ pernah terlintas di pikiranku niat untuk nyakitin hati kamu, aku sayang… aku cinta sama kamu, kak olga!! “

“Kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ sangat mudah untuk diucapkan, aku butuh lebih dari itu, jess…!!”
“Tolong jelasin sama aku, kak olga!! rasa sayang yang seperti apa yang kamu butuhin… rasa cinta yang gimana yang kamu inginkan dari aku…. Jelasin sama aku, biar aku tahu seberapa pantaskah rasa sayang dan cinta aku ini buat kamu!!

Cerpen Cinta Romantis

“Hanya waktu yang bisa ngejelasin semua itu, jess…!!”

“Setahun lebih aku bertahan dengan semua ini…berharap cintaku terakui olehmu, kak olga!!”

“Setahun masih terlalu singkat buat aku untuk bisa yakin memiliki cintamu… karena aku sudah pernah melewati waktu 7 tahun hanya untuk bisa mengerti sebuah arti cinta dari orang yang sangat aku cintai dulu… dan kamu tahu, jess?...dia pergi ninggalin aku, dan menyisahkan keeping-keping kehancuran dihatiku!!” tak terasa air mata olga menetes… itulah yang biasa terjadi pada olga, jika mengingat masa lalunya dengan sang mantan, air matanya menjadi saksi kepedihan hatinya.

Jessica sangat mengerti kepedihan masa lalu yang di alami olga, tapi hatinya sendiri sudah tak sanggup lagi menahan rintihan ketidakpastian dari kisah ini…
“Kak olga… jangan bayang-bayangin aku dengan masa lalumu, aku punya hati dan cinta yang berbeda buat kamu!! kalau kamu masih enggan melepas masa lalumu, biarkan aku yang pergi!!!” Jessica beranjak pergi meninggalkan olga…

“Jess…!!” olga berhasil menahan Jessica
“Cukup kak olga, lepasin aku..!!”


Cerpen Cinta Romantis 

“Jess… tolong jangan tinggalin aku, aku hanya butuh waktu untuk semua ini!!” olga mendekap Jessica hingga wajah mereka berdekatan,keduanya bertatapan saling pandang dan itu telah memacu detak jantung mereka lebih cepat… dug..dug..dug
Tanpa sadar Jessica melingkarkan tangannya ke leher olga, kepala mereka mendekat perlahan, bibir mereka bagai magnet cinta yang ingin bersentuhan dan saling melumat. Dan terjadilah moment yang sangat ROMANTISSS!!!

Tiba-tiba Jessica melepaskan ciumannya, dan berbisik di telinga olga dengan suara bergetar karena menahan tangis..
“Mungkin ini yang pertama, atau mungkin akan menjadi yang terakhir buat kita… biarkan aku pergi sekarang, kamu bisa miliki hatiku jika kamu mau, jika kenangan dapat melupakan cinta sejatimu, kembalilah pada masa lalumu!!!” dan akhirnya Jessica pergi meninggalkan olga yang masih tertegun memikirkan kata-kata Jessica…

Olga masih belum beranjak dari taman itu, ia merenungi setiap detail kejadian dan kenangan yang terjadi dalam hidupnya…
“Ya Allah… kenapa kisah cintaku ribet seperti ini??” Olga terngiang kata Jessica “jika kenangan dapat melupakan cinta sejatimu, kembalilah pada masa lalumu!!”
“Apa mungkin aku bisa melupakan masa laluku sementara dia kembali datang kepadaku?” gumam Olga dalam pikirannya.
Ya mantan kekasihnya, Vanessa kembali hadir dalam kehidupan Olga… Vanessa kembali dengan membawa setumpuk penyesalan karena telah meninggalkan Olga.

Olga teringat pertemuannya dengan Vannesa kemarin malam di rumahnya.
“Olga.. ma’afin aku uda ngecewain kamu, aku beneran nyesel uda ninggalin kamu!!” Vanessa memohon dengan linangan air mata.

“Kalau kamu cuma mengharap kata ma’af dariku, kamu uda dapetin itu karena aku uda dari dulu ma’afin kamu. Vann…!!” jawab olga

“Makasi Ga… kamu uda ma’afin aku, aku semakin sadar kalau aku bener-benar uda jadi cewek terbodoh yang telah ngelepasin cowok sebaik kamu, aku harap kamu masih mau nerima aku lagi, kita bisa ngelanjutin mimpi-mimpi kita yang tertunda Ga…!!”

Olga semakin bingung dengan perasaanya, di satu sisi ia merasa telah menemukan cintanya bersama Jessica, tapi Olga selalu takut untuk memiliki hati Jessica, dia takut suatu saat Jessica meninggalkannya karena buatnya Jessica adalah sosok yang sangat sempurna dan saat ini masih banyak cowok-cowok keren yang berusaha mengejar cinta Jessica, memang selama setahun ini jessica masih bertahan mencintainya dan mengacuhkan tawaran2 cinta dari cowok2 itu, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi setelah itu.

Di lain sisi, Olga juga masih memikirkan sang mantan Vanessa, kehadirannya semakin membuat gamang hatinya. Jujur, slama ini sang mantan masih terpatri dalam hatinya, meskipun dia telah menyakiti hatinya tapi olga masih selalu mengharapkan kedatangannya untuk meminta penjelasan kenapa Vanessa meninggalkan dia. Kedatangannya telah menjelaskan mengapa Vanessa meninggalkan olga, ternyata bukan keinginan Vanessa sendiri untuk meninggalkan olga, itu semua karena paksaan ortu Vanessa yang menjodohkannya dengan pengusaha kaya, dan sekarang pengusaha kaya itu telah meninggalkan Vanessa, karena itu Vanessa kembali, berharap olga mau merajut kembali kisah mereka.

Olga merana memikirkan cintanya, haruskah ia memilih Jessica dengan bayang-bayang kesempurnaannya dan harus menguatkan hatinya untuk siap melihat begitu banyak cowok yang akan memuja kekasihnya itu , atau Olga harus memilih kembali kepada sang mantan Vanessa yang pernah menyakitinya tapi masih tulus mencintainya???
Trimakasih udah mau baca Cerpen Cinta Romantis.... :)

Sumber :   http://www.kutembak.com/2013/04/cerpen-cinta-romantis.html

Sang Diva

Hari ini, aku berdiri disini bersama diam, sepi, dan dingin.

Kemana kehangatan? Dimana kedamaian?

Aku telah mencampakkannya.

Oh ya, hai, aku Sesillia Verista.Mungkin kalian telah mengenalku, tapi sekarang kalian tak mungkin mengenaliku lagi. Aku telah berbeda, jauh berbeda.Bukan pribadi Verista penyuka warna silver yang bertunangan dengan Rafael Arvito yang amat baik, bukan si kembang SMA tukang ngelamun yang bersahabat dengan Adynda Mutiarani. Bukan. Sekali lagi kutegaskan, BUKAN.

Sekarang aku menjelma sebagai seorang pemenang audisi model SANG DIVA yang cantik, elegan, sempurna, tapi kesepian. Ck, ini menyedihkan.

Rafa kesal denganku, aku terlalu mementingkan pekerjaan dan terkesan mengabaikannya. Puncaknya, kami perang mulut dan akhirnya selama dua minggu terakhir kami perang dingin.

Eoh.

Dynda telah kuabaikan jauh lebih parah.

Mengapa?

Maaf, aku sedang tak ingin menceritakannya.

Kupandangi gemerlapan lampu dibawahku, dari ketinggian kesepuluh apartemen milikku.

Aku belum cerita ya, aku telah lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga dengan peringkat cum laude. Sempurna? Ya, seandainya…

Cukup, aku tak mau memikirkannya lagi.

Kembali kutatapi gemerlapan cahaya malam perkotaan, dari apartemen pribadiku ini. Kebetulan, jadwalku sepi dan aku pun keSEPIan.

Sungguh, aku menyesal mengikuti audisi itu. Karenanya, aku kesepian.

Jadwalku padat, tapi relung hati dan jiwaku kosong pun hampa.

Sejak mengikuti audisi model itu, aku menjadi seorang model papan atas. Pantas saja jadwalku sibuk.

“Ting tong,”

Aku menegang. Siapa? Pikirku.

Kubangkit  dari dudukku. Berjalan ke arah pintu, memegang gagangnya, dan membukanya…

Dia, Rafa.

Ia langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

“Gue mau ngomong,”

Perlahan, aku menengang. “Ya.”

“Dan gue ga pengen ini berakhir dengan perang mulut.”

“Ya.” Mulutku tak dapat mengeluarkan kata lain.

“Gue pikir, kita perlu nenangin diri dulu.”

“Ya.”

“Jadi kita perlu rehat sementara dari hubungn kita.”

“Ya.”Tapi kemudian aku tersadar dan tergeragap. “Kenapa?”

“Lo perlu intropeksi diri.” Ucapnya seraya tersenyum agak pahit. “Yah, oke. Bye. Sampe ketemu setelah lo nyadar apa salah lo.”

“Ya.”

Setelah dia keluar dari apartemen pribadiku, aku baru tersadar bahwa aku melakukan suatu kesalahan bodoh yang besar.Kenapa aku selalu bilang ‘ya’?

***

Aku menghembuskan napas panjang, lagi dan lagi. Bukan berarti sekarang aku merasa lega.
Oke, sekarang aku kembali sendiri dan kesepian.
Apakah kalian ingin tahu, apa yang terjadi padaku dan Dynda?
Baiklah.
 Ini semua dimulai dari salah paham dan diperparah kecuekanku sebab kesibukan yang meninggi.
Jadi begini.
Dynda melihatku berjalan bersama seorang lelaki dan menganggap aku mengkhianati sepupunya.
Hei, tunggu dulu, jangan menyalahkanku! Sudah kukatakan, ini salah paham. Lelaki itu seorang sutradara yang menawariku untuk membintangi sebuah film. Tapi kutolak, karna seperti yang kalian tahu, aku sangat sibuk oleh profesi model. Dan... Kesalahpahaman terus berlanjut. Aku tidak tahu kesalahpahaman Dynda dan tak akan pernah tahu kalau saja July, sahabatku lainnya yang juga sahabat Dynda, mengatakannya padaku.
Lalu... Apakah Rafa tahu?
Tidak. Meski karna kesalahpahaman itu Dynda kecewa dan menjauhiku, ia bukan tipe menusuk-dari-belakang. Ia bukan musuh dalam selimut, bukan, dia bukan pengkhianat.
Ah, ya. Aku menjelaskan pada July segala kesalahpahaman itu dan July memercayaiku. Ia berusaha menjelaskan pada Dynda, tapi Dynda yang terlanjur kecewa tidak mau mendengarkannya.
Aku memejamkan mata. Mengingat saat July datang kesini.
"Ver, gue udah berusaha jelasin ke Dynda segalanya. Tapi dia gak mau dengerin segala yang menyangkut nama lo. Sori,"
Aku tersenyum. "Gak, harusnya gue yang minta maaf. Gue terlalu sibuk, ngabaiin sahabat. Harusnya gue yang jelasin, bukan lo," ucapku. Kuremas tangan July. "Thanks, atas pengertian lo yang gue butuhin banget."
July mengulas senyum. Ia menepuk bahuku. "That's what best friends are for, sob,"
Aku ikut tersenyum.
Saat itu, aku sangat mengingatnya. Raut penyesalan July yang terekam menambah sesalku, menggalinya lebih dalam.
Ah.
'Ting Tong,'
Sekejap, aku membeku, otakku bertanya-tanya. Siapa?
Beberapa detik kemudian aku tersadar. Langsung aku melangkah ke arah pintu dan membukanya.
July.
Ada apa?

July melangkah masuk. Senyum mengembang di wajahnya. Aku menatapnya heran.

“Ada apa, Ly?”

“Gue berhasil membuktikan ke Dynda kalo lo dan dia salah paham!”

“Dia percaya ke gue?”

“Ya. Persahabatan kita kembali lagi.” Senyum July makin lebar.

“Astaga, thanks, Ly! Harusnya gue yang jelasin, bukan lo. Thanks banget!”

“You know…” ucap July. “That’s…”

“…best friend what are for!” potongku. Kami tertawa.

“Oke, jadi lo tenang aja Ver. Ahahaha,”

Malam itu, aku dan July bercengkrama dalam tawa.



***



Aku bangun dengan senyum tergambar di wajah. Segala yang terjadi semalam membuatku berseri, tentu saja.

Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi dan sarapan. Umm, ada schedule apa aku hari ini? Kulirik kalender meja.

Pemotretan untuk majalah The Fashion.

Hanya satu. Baguslah, aku bisa meminta maaf pada orang yang telah terabaikan olehku.

Srekkk

Aku membuka tirai jendela. Huah, segar sekali udara ini. Kapan terakhir aku merasakannya? Kurasa sudah beberapa bulan lalu.

Dari apartemenku, aku bisa melihat aktifitas orang-orang berlalu lalang. Tapi karena halaman apartemenku yang sejuk dipenuhi pepohonan, aku bisa merasakan kesegaran yang lama tak kurasakan karena terkungkung dalam penjara kesibukan.

Kurasa aku harus mengurangi job.

Aku ingin menikmati hari seperti sebelum aku menjadi model.

Kubiarkan tirai terbuka. Udara kebebasan ini menyenangkan hati.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Pemotretanku pada jam 8. Manajerku kurasa sudah menunggu. Aku segera melangkah kebawah.Sebelum melangkah, aku kembali ke jendela. Kuhirup lagi dalam-dalam udara sebelum menutup jendela dan tirainya.

Srekkk

Hatiku terasa lapang dan lega.

***

Kurenggangkan otot-ototku. Lelah? Tentu saja. Tapi bibirku masih merekahkan senyum yang sama sejak pagi.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.
Senyumku lenyap. Kenapa nomor Rafa sibuk?
Kucoba sekali lagi. Tetap sama.

Kenapa dia? Sangat kesalkah padaku hingga mengabaikanku?

Aku beralih ke nomor Dynda.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.
Hya, ini lagi. Tidak aktif? 
Handphoneku berdering. July.
"Halo?"
"Ya, July?
"Lo lagi sibuk?"
"Ngga, lagi free. Ada apa?"
"Ke kafe 'Caca O' ya!"
"Ngapain?"
"Lo kira mau ngapain? Ya ketemuan lah! Sampai nanti!" Klik.
Kafe Caca O?

***

“Gue udah di depan, Ly.”

“Masuk lah! Ke meja nomor 11!”

“Oke.”

Aku melangkah masuk. Kulihat July duduk tenang di salah satu meja.

“Hei!” lambainya.

“Oh, hei!” Kafe ini memang sepi, atau hanya perasaanku saja?

July tersenyum sangat manis sampai aku curiga.

Pet!

Semua lampu mati. Ck, generator kafe ini gimana sih?

“Selamat ulang tahun, kami ucapkan,” nyanyian beberapa orang terdengar. Aku menoleh.

Ada Dynda, beberapa kawan SMAku, dan… Rafa. Mereka terssenyum membawa kue tart.

Mataku terbelalak. Kaget? Terkejut? Sudah tentu. Senang? Bahagia? Sangat!

Hampir saja air mataku jatuh. Terharu, tepat. Senyum terlukis di bibirku.

“Thanks,” suaraku nyaris tak terdengar.

“Tiup lilinnya, dong!” pinta Dynda seraya merekahkan senyum lebar. “Make a wish!

Aku meniup lilin pelangi berbentuk angka 21, sambil mengucapkan permohonan. Berkati persahabatanku yang indah in Tuha… Terimakasih, Amin.

“Hehe, gimana?” Rafa cengengesan.

“Ih! Kalian mau bikin gue jantungan ya!” jariku menuding.

Senyum usil tercetak jelas di wajah tertuduh. “Kita Cuma pengen nyadarin lo dari kesalahan lo! Kita bosen diabaiin. Lo udah tau rasanya, kan?” Tanya Dynda lembut.

“Sorry, ya,” ucapku tulus. “Thanks udah mau nyadarin gue. Thanks kejutannya,”

“Masih ada, lho!” July menyeletuk. Ia, Dynda, Rafa, dan kawan-kawanku mengeluarkan sesuatu.

"Present for our Model Princess!” seru mereka kompak.

“Astaga, thanks!” tatapanku menyapu kotak-kotak kado warna-warni itu. “Thanks!” ucapku lagi, memeluk Dynda, July, tiap kawanku, dan yang terakhir, Rafa. “Makasih,” lirihku.

Sorakan ‘Cieee…’ menggema di penjuru kafe. Aku tertawa. Siang itu kami akhiri dengan tawa ceria.

Our friendship can’t be erased, always and forever…

THE END
Sumber :  http://kumpulancerpenremajadananak.blogspot.com/2013/05/sang-diva-sekuel-silverista-gabungan.html

Percintaan Kepompong

Setiap  melihat kepompong di daun palem di teras rumahku aku selalu ingat
kata-kata kekasihku: kita, kau dan aku, adalah kepompong, yang menunggu waktu untuk lepas dari bungkusnya dan terbang menjadi kupu-kupu, belalang, atau mungkin burung jiwa. 

"Aku lebih suka kupu-kupu. Dengan sayap-sayap bercahaya kita akan terbang ke langit," ujar kekasihku, penuh imajinasi.. 

Tetapi, aku merasa terlalu lama jiwaku tidur di dalam kepompong itu, entah berapa abad. Namun, kekasihku yakin, makin lama kita bersemayam di dalamnya, akan makin matanglah jiwa kita, dan makin perkasa pula raga kita. "Kalau kau jadi kupu-kupu, kau akan jadi kupu-kupu yang kuat. Kalau kau jadi belalang, akan jadi belalang yang perkasa," katanya. 

Tapi, bagaimana kalau kita tidak menjadi apa-apa, atau bahkan mati di dalam kepompong itu, karena tidak punya kekuatan lagi untuk melepaskan diri dari kungkungan derita. "Ah tidak. Kita sedang berproses," katanya. "Kita harus jalani proses itu untuk menjadi." 

Untuk menjadi? Menjadi apa? Aku tidak tahu jawabannya, sebab aku tidak punya cita-cita. Aku ingin hidup mengalir saja bagai air, berembus bagai angin, menyebar bagai pasir, meresap bagai garam, menyusup bagai rumput-rumput jiwa. 

Tetapi, seperti kata kekasihku, aku jalani juga hidupku sebagai proses proses untuk menjadi. Aku jalani hari-hari manis, juga hari-hari pahit, bersama orang-orang yang bersentuhan denganku, bersama jiwa-jiwa yang bersedia berbagi. Kuliah, pacaran, bekerja, membangun karier, bertahun-tahun, berabad-abad, sampai serasa lumutan. 

Tapi, aku sungguh tidak tahan menghadapi tahapan membujang terlalu lama takut menjadi bujang lapuk. 

Maka, aku pun menikah begitu menemukan gadis yang aku sukai dan bersedia berbagi meskipun lebih banyak berbagi duka sebelum kuntuntaskan cintaku padanya. Sementara, kekasihku begitu tahan menjalani tahapan itu, membujang begitu lama, setidaknya sampai kami bertemu lagi di Jakarta. 

"Aku ingin kukuh dalam cinta, cinta pertama," katanya. Aku terkejut sekaligus terpana. "Bukankah kita masih dalam kepompong cinta yang sama? Sayap-sayap kita sedang tumbuh untuk bisa terbang sebagai kupu-kupu, bersama," tambahnya. Imajinatif sekali. Melebihi imajinasi seorang pujangga. 

"Tapi aku sudah menikah dan punya anak. Aku bukan lagi yang dulu," kataku. "Masuklah kembali engkau ke dalam kepompongku untuk bercinta seperti dulu," katanya. 

"Tapi, bagaimana dengan kepompongku?" 

"Buang saja. Tidak ada gunanya. Ia telah pecah oleh perkawinanmu yang tanpa cinta itu." 

"Apa? Tanpa cinta? Ah... kau keliru. Aku mencintai istriku." 

"Bagaimana engkau bisa berkata begitu jika cintamu tertinggal di sini, di dalam kepompongku. Tiap saat aku dapat merasakan denyutnya." 

Aku ingin membantah kata-katanya, bahwa aku benar-benar mencintai istriku, meskipun pada saat yang sama juga mencintai kekasihku. Bukankah lelaki biasa membagi cinta, sebab kodrat lelaki memang poligamis? Karena itu, meskipun aku telah memberikan cinta pada istriku, masih bisa juga aku mencintainya. 

"Aku masih mencintaimu. Aku masih berhasrat menyatukan jiwa dalam kepompong cintamu," kataku akhirnya. 

Sejujurnya, aku memang tidak dapat membohongi hati kecilku bahwa aku menikah bukan semata-mata karena cinta. Tapi, lebih karena tanggung jawab dan kewajiban. Aku memang mencintai istriku, tapi hanya dengan setengah hatiku. Sebab, seperti kata kekasihku, separuh cintaku masih tertinggal dan berdenyut di dalam kepompongnya.

Dan, begitulah. Hari-hari kulalui dalam percintaan ganda. Di rumah aku
bercinta dengan istriku, berkasih sayang dengan anak-anakku, dan membangun kehidupan sakinah dengan mereka. Pada hari-hari tertentu aku mengimami shalat mereka, dan menemani mereka membaca Alquran dalam kasih sayang Yang Maha Kuasa. Tetapi, di luar rumah aku selalu rindu untuk memasuki kepompong cinta kekasihku, memenuhi yang belum terpenuhi, mencintai yang belum tercintai. 

Kadang-kadang, bosan bermain kata-kata dalam imajinasi-imajinasi indah itu ini yang selalu aku lakukan sambil menatap wajahnya yang ayu dan senyumnya yang bagai irisan salju kami menciptakan kepompong dari selimut tebal di suatu tempat yang sejuk dan sepi. 

"Saatnya kita masuk ke dalam kepompong yang sebenarnya," katanya tiap kali kami merentangkan selimut tebal seperti biasa. 

Dan, kami pun berada di dalam selimut yang menutup sejak ujung kaki sampai ujung rambut kami. Seperti dulu, ketika kami masih sama-sama di Yogya, aku kembali merasakan hangat tubuhnya, degup jantungnya, lembut nafasnya, dan harum rambutnya. 

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya. 

"Kita tidur seperti bayi kupu-kupu sampai sayap-sayap kita tumbuh dengan perkasa untuk terbang ke langit bersama," kataku. 

"Apakah kau masih tidak ingin menikmati keperawananku." 

"Siapa tidak ingin menikmati keperawanan gadis secantik kau? Tapi, tidak. Aku tidak ingin merampas hak suamimu. Siapapun dia, kelak. Aku lebih suka menjaga kemurnian cinta kita, tanpa seks!" 

"Kau memang lelaki yang luar biasa." 

"Luar biasa bodohnya, maksudmu?" 

"Ha ha ha…!" 

Kekasihku tertawa di dalam selimut, cukup keras, hingga kepompong cinta kami serasa bergetar mau pecah.

 Tentu, menertawai kebodohanku. Tetapi, anehnya, sepuluh tahun lebih, dia tetap sabar mempertahankan cintanya pada lelaki bodoh seperti aku. Bukankah itu berarti dia, kekasihku, juga bodoh sepertiku? Ya, mau-maunya dia terus mencintai lelaki yang tidak mungkin lagi mengawininya, karena sudah beristri dan beranak. Apakah cinta memang misteri yang sulit dipahami, yang sulit ditolak kehadirannya dan sulit diusir pergi? Atau, kami memang orang-orang aneh yang ingin terus bercinta sebatas keindahan imajinasi?
Sebagai wanita karier yang cukup jelita bukannya tidak pernah ada lelaki lain yang menginginkan kekasihku.
 Banyak. Banyak sekali. Beberapa kali aku pun perah memergoki dia berjalan dengan seorang lelaki di suatu mal atau lobi bioskop. Tetapi, lagi-lagi, tiap kali kupergoki begitu, tidak lama kemudian dia langsung meneleponku bahwa lelaki itu hanya kawan biasa. Suatu hari pernah pula aku melihat kekasihku dikejar-kejar oleh seorang manajer tempatnya bekerja. Aku dengar lelaki itu sangat tertarik padanya. Kekasihku didekati dengan sedannya yang mulus, dibukakan pintu dan dipersilakan masuk. Tetapi, dengan halus kekasihku menolaknya. Dan, ketika kutanya mengapa, kekasihku hanya menjawab, "Aku masih suka tidur sebagai bayi kupu-kupu di dalam kepompong cinta kita." 

Kadang-kadang aku merasa khawatir juga, jangan-jangan kekasihku benar-benar menunggu lamaranku untuk kunikahi. Sebab, suatu hari ia pernah mengatakan, "aku sering merasa diciptakan hanya untukmu." Dan, bukannya aku tidak berani melamar dan menikahinya, atau bermaksud sengaja mempermainkannya. Sama sekali tidak! Tetapi, lebih karena aku sudah memiliki anak dan istri, dan sejujurnya belum punya nyali untuk berpoligami. Kadang-kadang, aku ingin nekat saja menikahinya sebagai istri kedua. Tetapi, tiap aku menatap wajah istri dan anak-anakku yang polos-polos yang tidak berdosa, yang saat tidur seperti menyerahkan seluruh nasibnya padaku, aku menjadi tidak sampai hati melakukannya. Aku tidak tega membayangkan keluargaku, yang aku bina sepuluh tahun lebih, tiba-tiba tercerai berai karena pernikahan keduaku. 

Tetapi, bagaimana kalau kekasihku memang benar-benar menungguku, dan terus menungguku bertahun-tahun lagi, berpuluh-puluh tahun lagi, berabad-abad lagi, sampai hilang seluruh kecantikannya secara sia-sia? Bukankah itu artinya aku menyia-nyiakannya? Bukankah itu artinya aku juga berdosa?
Berhari-hari lagi, berbulan-bulan lagi, bertahun-tahun lagi, seperti keyakinan kekasihku, kami terus berproses untuk menjadi. Entah menjadi apa. Berkali-kali kami mencoba tidur bersama lagi, bagai dua bayi kupu-kupu, di dalam satu kepompong cinta. Tetapi, belum juga tumbuh sayap-sayap perkasa di tubuh kami untuk terbang ke langit bersama-sama.

Aku makin suntuk dengan anak-anakku, memikirkan sekolah dan masa depan mereka. Aku juga makin sibuk dengan lemburan dan pekerjaan-pekerjaan sambilanku untuk menutup defisit biaya hidup di Jakarta yang semakin mahal saja. Sementara, kekasihku juga makin suntuk dengan kariernya yang terus menanjak, dan kini menduduki posisi sebagai seorang manajer. Kudengar bahkan dia sedang diproyeksikan untuk menduduki salah satu jabatan di jajaran direksi. "Syukurlah," pikirku.

Makin hari kamipun makin jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing. Bukannnya kami sudah tidak rindu lagi untuk tidur bersama sebagai bayi kupu-kupu di dalam kepompong cinta. Tapi, lebih karena waktu yang makin tidak memungkinkan untuk itu. Pada hari-hari liburku, Sabtu dan Minggu, aku lebih memilih berada di rumah atau pergi bersama keluarga, sedangkan kekasihku entah di mana. Beberapa kali, melalui telepon, kami masih sempat mengatur kencan seperti dulu, di hari kerja, tapi dialah yang membatalkannya karena harus menghadiri rapat penting yang mendadak di kantornya.

Dan, tiga tahun kemudian kekasihku benar-benar dipercaya sebagai salah seorang direktur di perusahaannya. Aku tahu dari undangan syukuran yang dikirimkannya padaku. Aku betul-betul menyempatkan diri untuk menghadirinya sekaligus ingin tahu sudah adakah lelaki yang beruntung dapat mendampinginya. Usai acara syukuran kami sengaja pulang belakangan untuk berbicara berdua. Ternyata dia masih sendiri seperti dulu, kesendirian yang membuat hatiku mendadak merasa berdosa dan pedih seketika.
"Apakah kau masih menyimpan kepompong cinta kita?" tanyaku.

"Ya," katanya. "Tapi, bayi kupu-kupu itu telah mati, karena terlalu lama menahan derita, menahan cinta yang tak sampai-sampai."

"Bukankah bayi itu kini telah tumbuh perkasa, menjadi wanita karier yang sukses?"
"Tidak. Aku bukan bayi kupu-kupu yang dulu. Kini aku adalah belalang dengan sayap-sayap perkasa yang mulai lapuk karena usia."

Aku kembali merasa tertohok oleh kata-katanya, tapi aku tiba-tiba juga merasa telah tua dan tidak patut lagi berimajinasi tentang cinta dengannya, bagaimanapun manis dan indahnya. Aku hanya merasa menyesal, kenapa dulu tidak cepat-cepat melamar perempuan yang begitu kukuh dengan cintanya. Selanjutnya aku hanya merasa bodoh dan tidak bisa berkata-kata lagi di depan keperkasaannya, sampai kekasihku beranjak dari kursinya dan mengucapkan "selamat tinggal" tanpa secercah senyumpun di bibirnya!

Jakarta , April 2004.

Sumber : http://ceritaindonesia.angelfire.com/cerita-pendek-percintaan-kepompong2.html